Millennial is Killer! Benar-Benar Generasi Ini Bagaikan Pembunuh Berdarah Dingin

Pikiran

Millennial is Killer! Benar-Benar Generasi Ini Bagaikan Pembunuh Berdarah Dingin

ASRO.ONE – Pada artikel kali ini saya ingin curhat tentang pemikiranku bahwa Millennial is Killer! Sungguh Generasi Millennial benar-benar bagaikan pembunuh berdarah dingin, begitulah kiranya yang kutemui dalam berbagai aspek peradaban masyarakat Generasi Millennial yang mulai merubah berbagai hal dari pada peradaban generasi-generasi sebelumnya. Saat ku mencarinya di pencarian google dengan kata-kunci Millennial is Killer karena penasaran, apakah ada yang berpikiran sama? Ya, ternyata begitu banyak artikel pendahulu saya yang membahas tentang Millennial is Killer dan itu semua sangat mewakili apa yang saya rasakan dan pikirkan. Adapun hasil pencarian yang pertama saya temukan adalah sebuah film yang berjudul The Millennial Killer (2020) yang membuatku ingin menontonnya karena penasaran tentang isi dari film tersebut. Namun ada yang lebih menarik lagi adalah ketika saya menemukan judul buku Millennials Kill Everything dimana isinya berbahasa Indonesia, beda hal nya dengan film The Millennial Killer (2020) yang berbahasa Inggris sungguh membuatku gak ngerti dengan alur ceritanya. Karena di sini saya ingin curhat tentang apa yang saya rasakan dan pikirkan, jika pembaca yang baik hati ingin tau lebih dalam tentang film The Millennial Killer (2020) dan buku Millennials Kill Everything silahkan cari saja di google berdasarkan judulnya.

Jadi, yang saya ingin curhatkan itu adalah generasi milenial atau yang dikenal dengan generasi Y yaitu yang lahir antara tahun 1980-2000 dengan hidup yang kini jarang atau mungkin tak pernah lepas dari pada yang namanya handphone atau bisa dikatakan kaum milenial ini hidupnya di handphone, itu semua dikarenakan terus berkembangnya teknologi pada zaman Milenial ini, sehingga banyak hal-hal tradisional yang mulai dibunuh kaum Milenial, salah satunya adalah kegiatan RW atau pemerintahan, pedagang, market place, toko, bank, uang, permainan dan masih banyak yang lainnya.

Baca Juga:  Mengapa Hati Bisa Mencintai?

1 Terbuhunya Kegiatan RW atau Kegiatan Pemerintah Diatasnya yang Masih Tradisional

Dengan terus berkembangnya teknologi, pemerintah mulai meluncurkan aplikasi-aplikasi untuk smart phone atau handphone yang berguna untuk kegiatan RW dan diatasnya. Perkembangan kaum milenial ini membunuh RW dan diatasnya yang sama sekali masih tradisional dan belum mengenal teknologi lebih dalam. Contohnya dalam peluncuran aplikasi Sapawarga, tidak sedikit Ketua RW yang terbunuh ke tradisionalannya sehingga harus mengikuti perkembangan zaman meski belum semua RW bisa menggunakan aplikasi Sapawarga yang dikeluarkan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar).

2 Terbunuhnya Pedagang, Market Place dan Toko Tradisional

Karena semakin kaum milenial lebih memilih dan senang belanja di Pedagang Online, Market Place Online dan Toko Online yang lebih memudahkan dan menyenangkan, pelan-pelan kaum Milenial membunuh pedagang, market place dan toko yang masih tradisional.

3 Terbunuhnya Bank Tradisional

Karena hidup Kaum Milenial senang di handphone, sehingga mereka mulai membunuh kantor cabang bank, kartu kredit dan kartu debit. Karena mereka mulai tak mau ribet harus bawa persyaratan dan mendatangi kantor cabang bank, sehingga solusinya adalah jika Bank tak mau dibunuh sama Milenial, bank harus bergeser ke sistem modern contohnya kartu kredit dan kartu debit dibuat secara virtual di handphone begitupun proses pendaftarannya. Contohnya salah satu bank yang sudah modern adalah Bank BTPN dengan mengeluarkan aplikasi Jenius nya sebagai andalan.

4 Terbunuhnya Uang Tradisional

Alat tukar tradisional atau yang disebut dengan uang adalah alat tukar yang dapat diterima secara umum atau uang ini bisa disebut catatan utang piutang, kenapa bisa disebut catatan utang piutang? maaf kalo salah, secara logika uang itu adalah selembaran kertas yang berisi angka dengan jumlah nilai sesuai yang terutang.

Contoh logikanya:
Jika uang A bukan hasil pinjaman dari Bank melainkan hasil jual beli, maka A gak ada utang ke Bank melainkan Bank yang punya utang ke A begitupun sebaliknya.

Jika A membeli baju pake uang ke si B, maka utang Bank ke si A lunas, karena si A sudah mendapatkan barang yang diinginkannya dari si B, sehingga sekarang Bank punya utangnya ke si B, dan seterusnya tergantung peredaran uang tersebut.

Sehingga bisa di ambil kesimpulan, karena Milenial hidupnya lebih seneng di handphone maka pelan-pelan uang tradisional pun dapat terbunuh dan tergantikan dengan yang lebih modern yaitu FinTech (Teknologi Keuangan) yang berupa uang digital atau catatan utang piutang yang tertulis di aplikasi handphone. Itu semua dikarenakan pada kehidupan generasi milenial sudah mulai berkembangnya FinTech, salah satunya adalah berkembangnya aplikasi Jenius, Mobile Banking, LinkAja yang sebelumnya bernama TCash, PayTren, OVO, Go-Pay, Dana, PayPal, Payoneer dan sebagainya.

Baca Juga:  Nasib Seorang Pegawai Retail

5 Terbunuhnya Permainan Tradisional

Dulu permainan sondah, kelereng, Gatrik, Oray-Orayan, Catur, Ular Tangga begitu populer dikalangan anak-anak, namun sekarang mulai terbunuh juga, karena pada masa generasi milenial sudah mulai beralih ke permainan di handphone yang lebih menyenangkan dan banyak pilihan.

6Terbunuh Yang Lainnya

Bagaimana menurut sobat, apakah Generasi Millennial benar-benar pembunuh berdarah dingin?

Klik untuk berkomentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lebih banyak di Pikiran

To Top