Islami

Penjelasan 3 Ulama Mengenai Hukum Memakai Jimat

Walaupun modernisasi menimpa umat manusia bukan berarti eksistensi dari para hamba Syaithon menghilang untuk menyerukan kesyirikan yang mereka perbuat, masa modern tak cukup berpengaruh bagi mereka untuk menghentikan aktivitas mereka dalam menyebarkan amalan-amalan Syaithon yang penuh dengan kesyirikan yang diwanti-wanti oleh seluruh Anbiya Allah untuk menghindari nya. Yang jelas dinyatakan oleh Allah di dalam al Qur’an bahwa kezhaliman yang paling besar adalah kesyirikan, perang antara Tauhid dan kesyirikan akan terus berkobar hingga hari dimana hancurnya alam semesta, menghilangkan kesyirikan secara total adalah salah satu hal yang amat sulit tapi meskipun begitu para Ulama, Tholib, mereka tetap menyebarkan ilmu untuk memadamkan api kesyirikan yang salah satu contohnya adalah masih maraknya penggunaan Jimat atau Tamimah yang menjadi salah satu topik yang selalu diperbincangkan, pada tulisan ini saya akan menukilkan pandangan 3 Ulama besar pada masanya, yakni Syekh Sayyid Sabiq, Syekh Sholeh Fauzan, Dan Syekh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin.

Pandangan Syekh Sayyid Sabiq

Beliau membahas bab Tamimah / Jimat pada pembahasan materi mengenai Fiqih Jenazah di kitab beliau “Fiqih Sunnah” beliau langsung membawakan dalil.

Dalil ke 1 Rasulullah Bersabda :

من تعلق تميمة فلا أتم الله له و من تعلق ودعة فلا ودع الله له

Artinya : “Barang siapa yang menganggantungkan Tamimah (Jimat) di leher-nya Allah tidak akan menyempurnakan urusannya, dan barang siapa yang menggantungkan jimat, Allah tidak akan meringankan apa yang ditakutinya.” (Hr. Ahmad)

Beliau juga mengatakan bahwa pada riwayat lain Rasulullah SAW berdoa kepada Allah agar tidak memberikan kesempurnaan kepada orang yang memakai jimat.

Dalil ke 2 yang beliau bawakan adalah hadist Ibnu Mas’ud yang melihat istri beliau memakai jimat, Ibnu Mas’ud langsung mengatakan :

لقد أصبح ال عبد الله أغنياء ان يشركوا بالله ما لم ينزل به سلطانا
ثم قال : سمعت رسول الله كل!سيم
يقول : “إن الرقى والتمائم والتولة شرك”

Artinya : “Sungguh Keluarga Abdullah tidak perlu untuk berbuat syirik pada hal yang Allah tak menurunkan keterangan tentangnya” kemudian beliau mengutip hadist Nabi : “Sesungguhnya Mantra/jampi-jampi, Jimat dan Tiwalah adalah kesyirikan”.

Dalil ke 3 yang beliau bawakan adalah mengenai sebuah Hadits tatkala Rasulullah SAW melihat untaian yang dipasang di lengan seseorang beliau bersabda :

وحيك ما هذا ؟

“Celakalah kamu apa ini?!”

Orang tersebut menjawab : “untuk menjaga dari penyakit”
Lalu Rasulullah SAW mengatakan : “Ketahuilah, jimat tersebut hanya akan membuatmu semakin lemah, Buanglah!, Karena jika kamu meninggal dan itu ada masih pada mu, maka kamu tidak akan beruntung selamanya”. (Hr. Ahmad , Ibnu Majah  3531)

Lelaki tersebut memasang jimat tersebut untuk menangkal dari rasa sakit sebagaimana para Hamba Syaithan menyerukan untuk memakai jimat semacam itu.

Dalil ke 4 Isa Bin Hamzah berkata “Aku mendatangi Abdullah bin Hakim, pada saat itu ia sedang sakit kulit, aku bertanya, Mengapa kamu tidak mengalungkan Jimat? Maka ia menjawab” Aku berlindung kepada Allah dari Hal tersebut” Rasulullah SAW bersabda : Barang siapa yang menggantungkan sesuatu (Jimat) maka ia akan dibuat dibebani dengan hal tersebut” (Hr. Ahmad)

Lalu beliau membahas Mengenai mengalungkan doa doa dari Al Qur’an dan As Sunnah apakah diperbolehkan atau tidak

Lalu beliau membawa hadist mengenai suatu do’a yakni do’a yang diajarkan Rasulullah “A’udzu bi Kalimatillahi At Tammati min gadhabihi wa iqabihi wa syarri ‘ibadihi wa min hamazati asy-syayathini wa an yahdhuruni” (Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari murkanya, siksanya, kejahatan hambanya, gangguan dan kehadiran setan).

Abdullah bin Amr mengajarkan Doa tersebut kepada Anak Anak Tamyiz dan belum tamyiz dan menggalungkan doa tersebut di lehernya (Hr. Abu Dawud, Ahmad, Tirmidzi, Malik, hadist hasan-gharib).

Hal itu merupakan pendapat Aisyah, Imam Malik, Mayoritas Syafi’iyah dan salah satu pendapat Imam Ahmad, sementara yang melarang dari hal itu adalah ; Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, Hudzaifah, Hanafiyah, Sebagian Syafi’iyah, salah satu riwayat Ahmad, bahwa hal itu tidak boleh berdasarkan hadist hadist yang telah disebutkan.

Penjelasan Syekh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin

Adapun penjelasan Syekh Utsaimin : Tatkala beliau ditanya Apa hukum menggantungkan (memakai) Jimat/Tamimah :
Al-Jawab : Masalah ini yakni memakai Jimat/Tamimah terbagi menjadi dua jenis
Jenis awal : Sesuatu yang digantungkan atau dijadikan jimat tersebut adalah berasal dari Al Qur’an maka dalam masalah ini ahli ilmu berbeda pendapat salaf maupin khalaf, ada dari mereka yang membolehkan hal tersebut (Tamimah dari Ayat Al Qur’an) menganggap hal tersebut masuk ke firman Allah, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ  ۙ

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman” (QS. Al-Isra’ 17: Ayat 82)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

كِتٰبٌ أَنْزَلْنٰهُ إِلَيْكَ مُبٰرَكٌ

“Kitab (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah” (QS. Sad 38: Ayat 29).

Dan (mereka berpendapat) sesungguhnya termasuk dari keberkahan memakai/menggantungkan Tamimah/Jimat agar mengangkat sesuatu yang buruk (As-Su’)

Dan di antara mereka (Ahli Ilmu) ada yang melarangnya, mereka berkata : Sesungguhnya memakai Jimat dari Al Qur’an tidak dilakukan/tidak ditetapkan oleh Nabi SAW juga tidak ditetapkan oleh Nabi bahwa sesungguhnya hal itu adalah sebab Syar’i yang menolak As-Su’ (penyakit/keburukan lainnya) atau mengangkatnya, Maka dasar pada hal seperti ini adalah At Taufiq (Tidak boleh ditetapkan kecuali adanya dalil dari Syari’) dan pendapat inilah (yang melarang memakai Tamimah/Jimat dari Al Qur’an) yang Rajih (kuat), sesunggunya tidaklah boleh menggantungkan Tamimah walaupun dari Al Qur’an Al Karim. Juga tidak boleh meletakan jimat tersebut di bawah bantal orang sakit atau digunakan (ditempel) di dinding  dan semisal dengannya. Dan Al Qur’an tersebut diserukan kepadanya dan dibacakan kepada orang yang sakit sebagaimana Nabi SAW melakukannya.

Jenis kedua : Bahwa yang dijadikan Jimat tersebut selain dari Al Qur’an yang makna (tulisan) yang ada pada Jimat tersebut tidaklah dipahami maka ini adalah Haram apapun keadaanya. Juga orang yang memakai tak tahu menahu apa yang ditulis (pada jimat tersebut). Maka sebagian manusia menulis mantra-mantra dan nama nama tukang sihir, Huruf yang saling tumpang tindih nyaris tidak dapat diidentifikasi dan tidak dapat dibaca maka ini adalah Bid’ah Haram tidak boleh dipakai apapun keadaanya. Allahu A’lam” (Sumber Kitab Fatawa Arkanul Islam, Syekh Muhammad Sholeh Al Utsaimin)

Penjelasan Syekh Sholeh Fauzan

Penjelasan terakhir datang dari anggota kibar ulama, Syekh Sholeh Fauzan : Di dalam kitab Aqidah At-Tauhid beliau juga membahas mengenai jimat, berikut penjelasan Beliau :
“Tamaa’im adalah bentuk jamak dari Tamimah, dan dia adalah Apa yang tergantung pada leher anak kecil, untuk mencegah penyakit Ain, Dan juga jimat tersebut dipakai untuk orang dewasa baik perempuan maupun laki-laki, ia terbagi menjadi dua jenis, jenis pertama beliau menyebutkan sama halnya dengan syekh Utsaimin, yakni jenis tamimah dari Ayat Al- Qur’an, Asma Allah, beliau juga menyebutkan itu adalah masalah Ikhtilaf perbedaan pendapat ahli ilmu, lalu beliau menukilkan ulama yang membolehkan yaitu : “yang membolehkan adalah Abdullah Bin amr ibn Ash, Aisyah, Abu Ja’far al Baqir, dan salah satu riwayat dari Ahmad Bin Hanbal, mereka berdalil dengan hadist yang mengandung larangan menggantung tamimah, terutama yang mengandung kesyirikan

Lalu beliau menjelaskan Ulama yang mengharamkan Tamimah walaupun dari Al Qur’an atau Asma Allah, mereka adalah ; Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Hudzaifah, Uqbah bin Amir, Ibnu Akim, Dan mayoritas Tabi’in, Muridnya Ibnu Mas’ud, Dan salah satu riwayat Imam Ahmad yang banyak dipilih Sahabat beliau (riwayat yang ini lebih kuat), dan juga Ulama Muta’akhirin, mereka berdalil dengan hadist Nabi SAW,

“إن الرقى و التمائم و التولة شرك”

Sesungguhnya Mantra mantra, Jimat, Dan Tiwalah adalah kesyirikan (Hr. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, Hakim).

Beliau juga membantah orang yang membolehkan Jimat dari Al Qur’an dengan 3 alasan yang beliau sebutkan:

Alasan yang ke 1 : Larangan memakai Jimat itu umum, (menyeluruh) dan tidak adanya pengkhususan pada keumummannya.
Maka bagi orang yang membolehkan Jimat Dari Al Qur’ab hendaklah membawa dalil adanya  pengkhususan terhadap larangan dari Nabi SAW mengenai Jimat.

Alasan yang ke 2 : Sadu Dzariah, (Menutup pintu agar tidak terjadi kemaksiatan, atau terjadinya sesuatu yang tidak mubah (boleh).

Alasan yang ke 3 : Bahwa sesungguhnya pembolehan Jimat yang berasal dari Al Qur’an itu akan membuat pelaku meremehkan Kalam Allah dengan membawanya kesana kemari , sampai dalam keadaan ia buang Hajat, Istinja atau yang semisalnya”.

Adapun penjelasan beliau mengenai jimat selain dari Al Qur’an, Asma Allah, Atau dari Sunnah, maka Ini Haram Mutlak apapun keadaan dan alasannya.

Maka jelaslah bagi kita bahwa hukum memakai  jimat adalah haram, adapun jimat yang berasal dari Al Qur’an maka terjadi perbedaan pendapat, dan Walhamdulillah pendapat yang benar adalah itu juga dilarang. Wallahu’alam.

Maka dari itu seorang muwahhid pastilah akan selalu membersihkan dirinya dari noda kesyirikan tak terkecuali pada benda yang disebut sebagai jimat yang banyak sekali saudara saudara kita terlena dan pada akhirnya memakai jmat tersebut untuk berbagai alasan dan hal yang terkadang sulit untuk masuk ke sanubari para muwahhid. Cukuplah Allah sebagai penolong bagi para Muwahhid.

Sumber :
1. Kitab : فقه السنة
Karya syekh Sayyid Sabiq
2. Kitab : فتاوى اركان الإسلام
Karya Syekh  Utsaimin
3. Kitab : عقيدة التوحيد
Karya Syekh Sholeh Al Fauzan

Lebih banyak di Islami

To Top